TIMES Indonesia
Building - Inspiring - Positive Thinking
Opini
Opini

Kiai dan Habaib Berpolitik karena Faham Kitab Kuning

11/10/2018 - 17:05 | Views: 40.52k
Ahmad Patoni (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESNUNUKAN, LOMBOK – KIAI atau tuan guru adalah panggilan penghormatan pada siapa saja yang memiliki kemampuan memahami ajaran agama. Selain memahami ajaran agama, mereka juga mampu menjadi teladan, rujukan dan pembimbing dalam meningkatkan ketakwaan pada Allah SWT.

Penguasaan keilmuan agama yang mereka miliki bisa dilihat dari sikap dan banyaknya orang yang menuntut ilmu padanya. Para kiyai tidak sekedar faham akan isi Al-Qur'an-Hadits, tapi mereka juga sangat faham dan bisa membaca kitab kuning (sebuah istilah bagi kitab tidak berbaris yang dikarang ulama salaf).

Diantara kitab salaf yang mereka sangat fahami adalah kitab Nahu saraf, fiqih, tasawuf dan lainnya.

Ilmu Nahu merupakan salah satu ilmu dasar yang tidak boleh tidak ada disaat mempelajari ilmu agama. Kitab ini berisi kaidah-kaidah bahasa Arab. Kaidah bahasa Arab merupakan syarat utama untuk bisa tau dan faham pesan agama yang terdapat pada Al-Qur'an-Hadits dan kitab karangan ulama. Dikarenakan Al-Qur'an-Hadits dan kitab ulama salaf kesemuanya menggunakan bahasa Arab.

Terkhusus di Pondok Pesantren yang ada di Indonesia, hampir semua Pondok Pesantren salaf mempelajari kitab Matnul Jurumiyah (Kitab Nahu). Dalam kitab ini secara eksplisit menggambarkan pola sikap hidup seorang Muslim dalam menghadapi kondisi bangsa di setiap zamannya.

Pada kitab itu dijelaskan, salah satu syarat kalam (ungkapan) dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga unsur. Kalau dalam konteks kehidupan. Ada tiga pola sikap pemimpin agama agar kehidupan berbangsa berjalan secara bersinergi.

Pertama adalah menggunakan model isim (menjadi ikon). Artinya seorang yang pernah belajar agama Islam, maka dia harus menjadi ikon. Dia harus selalu memiliki sikap terang dan jelas. Dalam mengarahkan dan menentukan arah politik. Baik arah politik secara pribadi maupun arah politik pondok pesantren yang dia pimpin.

Dan pola ini bisa kita lihat dalam sikap beberapa kiai, habaib dan para ustadz hari ini. Mereka secara terang-terangan mendukung salah satu kandidat Capres-Cawapres di Pilpres maupun Pileg. Mereka tidak sedikitpun merasa canggung meskipun hujatan datang bertubi-tubi. Tapi inilah karakter isim, dia selalu memiliki karakter jelas.

Pola selanjutnya adalah pola piil, pola ini adalah simbol dari gerakan para kiai yang tidak sekedar menjadi ikon atau simbol dari partai politik tertentu. Melainkan dia secara langsung ikut mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dan eksekutif. Sehingga tidak heran jika pada Pilkada, Pileg dan Pilpres hari ini. Justru para kiai dan tuan guru secara langsung ikut sebagai kontestan politik.

Pola selanjutnya adalah pola huruf. Pola ini lebih dimaknai sebagai sikap netral. Padahal jika kita telusuri lebih dalam. Ini juga bagian dari strategi atau sikap politik juga. Karena jika ada seorang kiai atau tuan guru tidak ikut sebagai ikon atau tim sukses atau ikut sebagai kontestan politik. Maka sejatinya kiai atau tuan guru tersebut sedang menjalankan misi politik. Misi politik tuan guru tersebut adalah politik garis tengah, politik garis tengah yang kami maksud disini adalah menjalankan misi politik menyatukan.

Dikarenakan jika tidak ada kiai yang menjadi penyambung dari dua pola di atas. Maka tidak akan pernah sempurna kehidupan manusia. Sebagaimana sempurnanya Kalam karena adanya unsur isim fiil dan huruf.

Melihat apa yang penulis paparkan di atas, maka tidak bisa kita katakan seorang kiai telah keluar dari kodratnya karena dia menjadi tim sukses seorang Gubernur, Dewan dan Presiden. Karena seorang kiai atau habaib yang terang-terangan menjadi tim sukses adalah kiai yang faham akan arti kata isim dalam kitab yang pernah mereka pelajari.

Begitu juga dengan seorang kiai yang langsung menjadi Gubernur, nyalon sebagai dewan atau ikut nyapres. Sangat kurang baik jika kita katakan kalau mereka adalah kiai yang menghilangkan muruahnya sendiri.

Karena sikap terang terangan sebagai calon adalah bentuk aplikasi dari pengetahuan mereka akan ilmu kitab kuning/sikap sebagai fiil. Sikap fiil adalah sikap pelaku atau penggerak utama.

Sikap selanjutnya adalah sikap para kiai atau tuan guru yang sama sekali tidak mau terlibat sebagai tim sukses apalagi sebagai calon eksekutif maupun legislatif. Sikap ini bukanlah sikap apatis akan kondisi bangsa maupun agama. Sikap ini adalah bentuk pemahaman mendalam mereka akan isi dari kitab yang mereka pelajari.

Mereka mempelajari makna huruf. Huruf tidak memiliki tanda, huruf kelihatan tidak punya arti secara individu. Tapi huruf menjadi penentu bersatunya isim dan fiil. Huruf menjadi pemberi makna dari isim dan fiil.

Artinya kiai yang netral memang tidak akan seterkenal kiai timses atau Capres. Tapi kiai pola huruf adalah penyambung silaturahmi, dia sebagai tempat berteduh para kiai yang aktif sebagai timses atau calon.

Hal yang sangat kita sayangkan adalah, banyaknya orang yang berusaha menghilangkan kepercayaan mereka pada kiyai yang sudah terang terangan menjadi tim sukses atau kiyai yang terang terangan mencalonkan diri. Salah para kiyai atau tuan guru dimana?

Akankah kita yang tidak faham ilmu kitab kuning berani berkata, kalau mereka bukan ulama lagi? Pikiran negatif kita berujar, mereka adalah kiai haus dunia. Sungguh hal ini adalah sikap yang terlalu terburu buru. Sikap politik mereka bukan karena sedang lupa akan tugas atau ajaran agama.

Melainkan mereka sedang mengaplikasikan ilmu keagamaan mereka secara nyata. Ilmu tidak hanya dalam dada, tapi ilmu pengetahuan mereka harus berbentuk nyata dalam sikap.

Terkadang dikarenakan keterbatasan pengetahuan yang kita miliki. Kita berpikiran bahwa ulama sejati adalah ulama yang fokus mengajar di Pondok Pesantren atau Musala. Ulama yang senantiasa mengisi ceramah agama di mimbar masjid yang ada.

Padahal tidak demikian. Para ulama memang harus jelas dalam pemetaan dakwahnya. Seperti ilmu yang mereka fahami di kitab-kitab salaf. Harus ada sebagai politisi, penggerak masa dan harus ada yang tetap fokus sebagai penyambung keduanya.

Begitu juga dengan kita yang selama ini begitu tergiur dengan politik kebangsaan. Kita menganggap bahwa ulama yang tidak mau terlibat dalam issue kebangsaan, tidak nyaleg kita anggap mereka adalah orang alim yang apatis. Mereka kita kerdil kan, pondok yang mereka asuh tidak mau kita bantu.

Dikarenakan seolah para kiai pola huruf ini tidak berkontribusi sama sekali dalam mendulang suara saat Pilpres dan Pileg. Tanpa kita sadari, kehadiran mereka adalah sebagai penyambung dan penjaga keutuhan ummat sehingga tidak terkotak-kotak dalam pilihan. Mereka ini adalah tempat mengadunya masyarakat, pejabat maupun politisi.

Pola gerakan kiai dan tuan guru seperti diatas akan sangat sulit difahami, kecuali oleh orang yang pernah belajar agama secara mendalam. Terlebih para santri yang sudah pernah mempelajari kitab nahu saraf. Para santri tidak akan berani menyalahkan cara dan sikap para kiai.

Dikarenakan para santri sangat faham kenapa para kiai menjalankan misi politiknya dengan cara menjadi timses, calon eksekutif legislatif atau diam saat konstelasi politik sedang berjalan.

Santri atau masyarakat yang faham agama tidak akan pernah menghina, mencibir apalagi menghujat langkah langkah yang diambil para kiai atau tuan guru. Justru santri atau masyarakat tersebut akan lebih banyak berdoa untuk kesuksesan misi para kiyai dan tuan guru.

Para kiai, santri, masyarakat berilmu dan habaib sangat faham. Misi politik tidak selamanya dikatakan sukses dan tercapai disaat para kiai mampu memenangkan pilkada maupun Pilpres. Justru kemenangan hakiki dari para kiai dan tuan guru adalah ketika kemenangan atau kekalahan itu mampu semakin mendekatkan mereka pada sang pencipta.

Karena tujuan utama dari setiap langkah kiai, tuan guru dan habaib terjun di politik atau tidak terjun adalah mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa dan agama. Dengan harapan maslahah yang didapat melalui membantu masyarakat itu, bisa membawa mereka dekat dengan Allah sang Maha pencipta dan tempat kembali. Wallahualam.(*)

*) Penulis, Ahmad Patoni, SS, Kepala Madrasah Diniyah Salaf Modern Thohir Yasin Lendang Nangka, Masbagik, Lombok Timur.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Jurnalis :
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Indonesia
Copyright © 2018 TIMES Nunukan
Top

search Search